Minggu, 26 Oktober 2008

IAS 41 AGRIKULTUR, PERKEBUNAN

IAS 41 AGRIKULTUR

Saat ini semankin berkembangnya dan banyaknya usaha agrikultur maka disusunlah suatu standar akuntansi baru yaitu IAS 41 yang tidak hanya mengenai agrikultur tetapi juga perbankan dan asuransi. Agrikultur didefenisikan sebagai manajemen dari tranformasi biologis tanaman dan hewan untuk menghasilkan produk yang siap dikonsumsikan atau yang masih membutuhkan proses lebih lanjut. Dalam IAS 41 ada 3 kriteria dari aktivitas agrikultur yaitu :
• Tanaman dan hewan harus dalam keadaan hidup dan berkembang
• Perkembangan pada tanaman dan hewan harus dikelola dengan serangkaian kegiatan yang tepat.
• Harus ada dasar dalam mengukur perkembangan yang terjadi pada tanaman dan hewan.
Pada prinsip-prinsip dasar IAS 41 diperlukan penilaian wajar ( fair value) terhadap aktivitas agrikultur. Dimana menjadi dasar penentuan nilai wajar adalah nilai pasar, hanya jika elemen keuangan memiliki pasar aktif, dan pasar aktif ini juga menjadi pedoman untuk menilai keadaan asset yang sebenarnya, tempat asset, dan kondisi yang sesuai pada tanggal neraca. Akan tetapi jika untuk hal-hal khusus tidak layak atau sulit dilakukan penilaian wajar maka dibolehkan menilai dengan historical cost.
Di dalam IAS 41 juga dibahas mengenai pengakuan dan pengukuran aktivitas agrikultur, diantaranya yaitu :
• Aset bilogis diukur sesuai dengan nilai wajar dikurangi biaya penjualan, kecuali jika nilai wajar tidak dapat diukur secara reliable dalam kondisi lain nilai historis dapat digunakan.
• Hasil produksi agrikultur yang dipanen dari asset biologis juga dinilai sesuai dengan nilai wajar dikurangi biaya penjualan.
• Asumsi nilai wajar dapat diukur secara reliable untuk suatu asset biologis dapat dihindari hanya pada saat pengenalan awal, dimana nilai atau harga pasar tidak tersedia dan perkiraan alternative nilai wajar ditetapkan tidak reliable
• Harga pasar adalah harga yang pantas sebagai penentuan nilai wajar.
• Bila harga pasar tidak ditemukan maka penilaian menggunakan Present Value dari arus kas bersih asset.
• Keuntungan dan kerugian harus diakui pada setiap pelaporan
• Setiap keuntungan dan kerugian diakui pada periode terjadinya.
• Tanah dinilai berdasarkan historical cost sesuai dengan IAS 16.
• Hibah dari pemerintah yang terbentuk asset biologis harus dinilai sesuai dengan nilai wajar.
• Kontrak-kontrak penjualan asset biologis juga menggunakan nilai wajar, sampai asset biologis terjual atau produk dipanen.
Pelaporan keuangan dari aktivitas agrikultur juga ditetapkan di dalan IAS41 sebagai berikut :
 NERACA
Pelaporan asset biologis kepada current ataupun non-current asset sesuai dengan tujuannya (untuk dikonsumsi atau untuk tujuan tertentu) dan sesuai kondisi (mature atau immature)
 LAPORAN LABA RUGI
Perubahan atas nilai wajar akan dilaporkan di laporan laba rugi, dan beban akan diklasifikasikan berdasarkan sifat atau fungsi dasarnya.
 PENGUNGKAPAN
Pengungkapan (disclosures) yang baru dalam IAS 41 adalah :
• Rekonsiliasi yang terpisah dari perubahan nilai yang terdapat pada asset biologis tersebut.
• Deskripsi tentang asset biologis
• Penjelasan tentang mengapa nilai wajar tidak dapat diukur dengan tepat.
• Penjelasan tentang range dari estimasi dimana nilai wajar itu berada.
• Jumlah nilai dari keuntungan atau kerugian yang diakui dari penghapusan asset biologis.
• Metode penyusutan yang digunakan
• Umur ekonomis atau berapa penyesuaian yang digunakan
• Nilai kotor yang terbawa dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir dari periode pelaporan.

AGRIKULTUR
PERSPEKTIF DAN ISU
Sejak lebih dari dua puluh delapan tahun keberadaan IASC, selama itu pula dilakukan upaya pengembangan dan perbaikan sntadar akuntansi yang berlaku, demi tercapai tujuan umum pelaporan keuangan yang tepat dan akurat. Beberapa tahun belakangan ini, penyempurnaan standar akuntansi semankin penting dimana berbagai kebutuhan dari industry-industri khusus semankin banyak. Kebutuhan tersebut seharusnya mendapat lebih banyak perhatian.
Selain sector perbankan, sesungguhnya industry khusus lainnya tidak begitu diperhatikan IASB. Namun saat ini hal tersebut berubah. IASB mulai mempehatikan kebutuhan industry khusus terutama mengenai pelaporan keuangannya. Dengan banyaknya usaha agrikultur yang ada maka disusunlah suatu standar akuntansi yang baru yaitu IAS 41 yang tidak saja mengenai agrikultur tapi juga perbankan dan asuransi.
Sebenarnya industry khusus yang pertama yang diperhatikan mengenai Pelaporan Keuangan Spesifik-nya oleh IASC adalah agrikultur ( masalah perbankan sebelumya hanya perluasan peraturan pengungkapan). Pembahasan susunan dan bentuk laporan keuangan industry khusus ini mulai dibahas sekitar lima tahun lalu. Agrikultur merupakan aspek yang sangat mempergaruhi perekonomian Negara berkembang, sehingga IASC berupaya menetapkan suatu standar Laporan Keuangan yang lebih terarah pada bidang agrikultur bagi Negara-negara berkmebang tersebut. IAS 41 mulai efektif digunakan dalam penyususnan dan penyajian Laporan Keuangan sejak 1 Januari 2003.

DEFENISI ISTILAH
Pasar Aktif. Pasar dimana item yang diperdagangkan homogen, setiap saat pembeli dan penjual dapat bertemu dalam kondisi normal dan dengan harga yang dapat dijangkau.
Kegiatan Pertanian/agrikultur. Pengelolaan transformasi hidup dimulai dari pengelolaan asset biologic sampai menjadi atau menghasilkan produk agrikultur yang dapat dijual, digunakan, diprose lebih lanjut, atau pun sampai menghasilkan asset biologic lainnya.
Produk agrikultur. Hasil pertanian, merupakan produk hasil panen dari asset biologik perusahaan yang akan dijual, diproses, ataupun dikonsumsi.
Aset Biologik bawaan. Asset ini menghasilkan produk agrikultur bawaan yang dapat dipanen, namun aset ini tidak menghasilkan produk agrikultur utama dari perusahaan tapi dapat beregenerasi sendiri, contohnya produksi wool dari ternak domba; pohon yang buahnya dapat dipanen.
Aset biologik. Tanaman pertanian dan hewan ternak yang dimiliki dan diolah perusahaan yang diperoleh dari kegiatan masa lalu. Penguasaan aset dapat melalui hak milik ataupun melalui jenis kepemilikan lain yang sah.
Transformasi biologik. Proses pertumbuhan, degenerasi, produksi yang disebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif pada makhluk hidup dan menghasilkan aset baru dalam bentuk produk agrikultur atau aset biologik tambahan pada jenis yang sama.
Nilai bawaan. Jumlah nilai aset yang diakui pada neraca setelah dikurangi akumulasi penyusutan atau amortisasi dan akumulasi kerugian.
Aset biologik bahan pokok. Aset agrikultur yang dipanen menghasilkan bahan pokok seperti ternak untuk diproduksi daging, padi menghasilkan bahan pangan beras, dan produksi kayu sebagai bahan kertas.
Nilai wajar. Nilai aset dan kewajiban yang dapat berubah sesuai kewajarannya pada pasar saat transaksi dilakukan atau neraca disiapkan.
Group aset biologik. Kawanan ternak, gembala, kelompok, dsb yang dikelola dan dipelihara untuk menjamin dan mempertahankan kelangsungannya dimana hewan ternak dan tanaman pertanian bertambah jumlahnya dan jenisnya homogen
Panen. Waktu saat aset biologik telah menghasilkan produk agrikultur, perubahan tanaman yang belum menghasilkan menjadi/menghasilkan produk yang dapat dijual dan ditanam kembali atau merupakan proses berhentinya kehidupan aset biologik.
Tanaman belum menghasilkan. Tanaman yang belum dapat dipanen atau belum mampu dipanen secara teratur.
Tanaman menghasilkan. Tanaman yang sudah dapat dipanen atau sudah mampu dipanen secara teratur. Aset biologik bahan pokok telah menghasilkan bila sudah mencapai criteria/syarat panen; aset biologik bawaan telah menghasilkan bila sudah mampu dipanen secara teratur.
Nilai yang dapat direalisasikan bersih. Estimasi harga jual dari kegiatan bisnis normal yang dikurangi dengan estimasi biaya lain yang dibitihkan dalam proses penjualannya.
KONSEP, ATURAN DAN CONTOH
Latar belakang
Menurut sejarahnya, penyusun standar akuntansi dunia tidak begitu memperhatikan uasaha di bidang agrikultur. Hal ini mungkin disebabkan Negara maju dan para penyusun standar akuntansi internasional banyak yang berasal dari US dan UK, dimana perekonomiannya sangat kecil dipengaruhi sekrot agrikultur dibandingkan dengan negara berkembang yang jumlahnya di dunia lebih sedikit.
IASC, dalam usahanya membuat stadar akuntansi terbaik didunia, sering kali mempergaruhi standar Laporan Keuangan negara berkembang, banyak negara yang merujuk secara keseluruhan dari IAS, dan banyak pula yang menjadikan IAS sebagai dasar dalam penetapan standar akuntansi negaranya. Hal ini mungkin disebabkan kepekaan IASC di sector agrikultur yang dimulai sejak 5 tahun lalu sehingga banyak pembahasan dilakukan mengenai sector ini. Puncak dari pembahasan mendalam di sector ini adalah dengan penetapan IAS 41.
Dalam penetapan peraturan akuntansi dan laporan keuangan di bidang agrikultur akan banyak dijumpai sekmen industry yang baru. Termasuk diantaranya transformasi biologic dimana terjadi perubahan nyata dari riset biologic, berbagai klasifikasi asset hidup dan cara kepemilikan. Di pihak lain, banyak negara maju yang juga merupakan negara sector agrikultur, dengan kondisi-kondisi tersebut maka wajar jika diharapkan suatu system Laporan Keuangan untuk usaha di sector agrikultur banyak dijumpai sekmen ekonomi yang unik di bidang ini.
Pada masa lalu terdapat kesenjangan di bidang agrikultur dimana usaha dikuasai dan dijalankan oleh anggota keluarga, jika pun ada, hanya sedikit pihak dari luar yang diminta untuk menyiapkan Laporan Keuangan yang sesuai prinsip akuntansi yang berlaku. Demikian juga halnya dengan pemberian pinjaman, mereka lebih memperhatikan karakter peminjam, yang biasanya merupakan warga lama dan terpandang di masyarakat, bukanya lebih memperhatikan Laporan Keuangan peminjam. IASC mengakhiri siatuasi tersebut sejak mereka memperhatikan dan membahas pelaporan keuangan di bidangn ini.
Pada pertengahan 1990, IASC memutuskan hal pengeluaran bidang agrikultur dari lingkup IAS. IASC juga menyetujui kebutuhan prinsip yang relative sederhana, keseragaman, dan kumpulan prinsip yang saling berhubungan yang dapat diaplikasikan terhadap kelompok industry, mengurangi prinsip-prinsip bisnis tidak sehat. IASC juga memutuskan pencangkupan nilai wajar sebagai ganti nilai perolehan. Sntar baru ini akan diterapkan hanya untuk asset yang bersifat biologis. System akuntansi tentang asset seperti persediaan barang dagangan, pabrik dan peralatan ditemukan pada IAS No. 2 dan 16.
Pendefinisian Agrikultur
Agrikultur didefenisikan sebagai manajemen dari tranformasi biologis tanaman dan hewan untuk menghasilkan produk yang siap dikonsumsi atau yang masih membutuhkan proses lebih lanjut. Istilah agrikultur meliputi peternakan, kehutanan, penebangan tahunan dan tanaman khusus, kebun buah-buahan, perkebunan dan agrikultur. Agrikultur dibedakan dari eksploitasi dimana sumber daya digunakan tetapi tidak dijaga kelestariannya IAS tidak memperkenankan aktivitas pengeksploitasian. Standar selanjutnya tidak mengatur masalah akuntansi untuk produk agrikultur yang tergabung dalam perusahaan yang membutuhkan proses lebih lanjut.
IAS 41 membuat sebuah tes yang terdiri dari tiga bagian atau menurut criteria aktivitas agrikultur. Pertama, tanaman-tanaman atau hewan-hewan yang merupakan objek aktivitas harus dapat bertahan dalam tranformasi. Kedua, perubahan harus datur, termasuk jarak antara aktivitas yang digambarkan dalam beberapa periode, atau kerugian dilaporkan sebagai beban produksi dan juga penggunaan biaya perolehan harus berdasarkan transaksi yang lengkap.
Tidak hanya penyimpangan periode yang akan menyebabkan penyesatan, setiap tahapan peruses tranformasi biologi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap penyesatan tersebut. Setiap tahapan (pertumbuhan, penggenarian, prokreasi, dan produksi ) memiliki kontribusi terhadap keuntungan ekonomi. Kecuali jika metode nilai wajar digunakan dalam laporan keuangan, akan menjadi pengurang bagi pengakuan keuntungan yang diasosiasikan dengan setiap peristiwa berbeda. Pengakuan ini juga menegaskan kebutuhan untuk menggunakan konsep pengukuran yang sama untu setiap tahapan dalam siklus hidup set biologis, contohnya perubahan berat, perubahan berat bulu domba, pemeraman, kematian, kelahiran domba, pengguntingan bulu.
Alas an yang nyata dalam pemilihan metode harga perolehan berdasarkan ukuran-ukuran yang berasal dari tipe-tipe yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Dengan transaksi yang lengkap, tidak ada ketidaktepatan dalam pembuatan nilai wajar. Kerelevanan yang tinggi merupakan alas an yang menggunakan current cost. IASC menilai jenis pengukuran termasuk current cost dan nilai yang dapat direalisasi sebagai harga pasar, sebagai alternative untuk nilai perolehan tapi akhirnya menentukan nilai wajar yang telah memiliki kombinasi terbaik dari kebijakan-kebijakan terhadap penentuan agrikultur yang berhubungan dengan pendapatan. IASC sebagian dipengaruhi keadaan pasar dimana system agrikultur tersebut berkembang dan karakteristik transformasi dari asset biologis dan memutuskan bahwa nilai wajar menawarkan keseimbangan terbaik dari kerelevanan, reliability, compareability, dan kemudahan untuk dipahami.
IASC juga memutuskan penentuan tahunan dari nilai wajar untuk penggambaran yang pantas terhadap dampak dari transaksi keuangan periode yang dilaporkan. Pengurangan frekuensi pengukuran tidak dikenankan karena kesinambungan transformasi biologis.
Hal mendasar dari perbaikan harga perolehan sebagai alternative tidak diperkenankan karena harga perolehan dipandang tidak berarti dalam konteks asset biologis. Tapi IAS setuju bahwa harus ada pengecualian untuk beberapa keadaan yaitu ketika nilai wajar tidak dapat diestimasi.

Penentuan Nilai Wajar
Dasar penentuan ilai wajar adalah nilai pasar, hanya jika elemen keuangan memiliki pasar akatif (IAS 32 chapter 5). Keharusan menggunakan “form gate” harga pasar akan menggambarkan “sebagai apa” dan “dimana” elemen asset biologis tersebut. Jadi nilai berhubungan dengan dimana keberadaan asset, pengalokasian, dalam kondisi apa asset tersebut diukur. Sebagai contoh hewan yang dibawa ke tempat penyembelian, harga dari peternak tidak bisa digunakan, nilai pasar akan berkurang oleh biayas transaksi, termasuk biaya transport (untuk mendapatkan nilai yang mendekati nilai wajar- IAS 41),

Ketiga, harus ada dasar pengukuran perubahan, seperti kematangan sayuran, berat hewan, dan lingkar pohon. Jika ketiga criteria ini dipenuhi maka aktivitas akan dipengaruhi oleh pesnyaratan laporan keuangan yang ditentukan dalam IAS 41.
Asset biologis adalah asset dasar aktivitas agrikultur, hasil ini dikelompokkan ke dalam dua tipe yaitu : pertama, memungkinkan pelibatan perubahan asset m,elalui perbaikan pertumbuhan dan kualtas, regenerasi, atau prokreasi. Kedua, melibatkan pengkualifikasi produk awal yang dapat dipisahkan sebagai produk agrikultur. Pengaturan proses transformasi biologis merupakan pembedahan karakteristik dari aktivitas agrikultur.
IAS 41 digunakan untuk hutan dan sumber daya baru yang serupa (diambl dari IAS 16). Produsen ternak, agrikultur dan produk hutan (IAS 2) yang diukur dengan ilai yang terealisasi, peningkatan hewan ternak, agrikultur dan oproduk hutan (IAS 18).
Prinsip-prinsip Dasar IAS 41 : Akuntansi Nilai Wajar
IAS 41 digunakan semua perusahaan yang menjalankan aktivitas agrikultur. Hewan atau tanaman diakui sebagai asset jika hal itu membawa keuntungan ekonomi di masa mendatang yang diasosiasikan dengan asset akan dimasukkan ke entitas pelaporan, dan jika biaya atau nilai diukur dengan tepat. Ada beberapa anggapan bahwa beberapa perusahan memasuki aktivitas agrikultur yang berdasarkan pada keutungan akan memiliki kemampuan untuk mengukur biaya atau nilai wajar. Standar baru juga mengatur pengukuran dasar dari hasil kultur.
Keistimewaan yang paling penting dari standar baru ini adalah persyaratan bahwa asset biologis diukur pada tanggal neraca. Penting sekali untuk memperluas penggunaan akuntansi nilai wajar pada banyak hasil pertanian, bahwa khususnya untuk peternakan. Di dalam ketiadaan akuntansi nilai wajar dengan perubahan dalam nilai yang akan dilaporkan dalam hasil operasi, keseluruhan pendapatan proses produksi jangka panjang hanya mungkin dilaporkan pada interval panjang. Ini analogi keseluruhan untuk rancangan pembangunan jangka panjang, dimana persentase penyelesaian akuntansi merupakan hal yang umumnya menentukan.
Pada masalah produk yang mungkin harga pasarnya tersedia, pendekatan lain untuk menentukan harga pasar wajar akan digunakan. Ini dapat menjadi suatu masalah ketika harga pasar tersedia namun dengan adanya pasar persaingan sempurna maka tidak menjadi berguna. Sebagai contoh, ketika akses ke pasar dilarang atau tidak diperkenankan dipengaruhi oleh kondisi monopoli atau monosponi sementara, atau ketika tidak ada pasar yang benar-benar ada sebagai patokan pada tanggal neraca maka pengukuran alternative akan digunakan. Dalam keadaan tertentu, itu diperlukan untuk menghubungkan dengan sejumlah indicator sebagai harga pasar terkini untuk masalah bagian asset, harga pasar untuk asset yang serupa (seperti jenis-jenis tanaman sama yang berbeda), sector benchmarks (seperti nilai yang berhubungan dari pabrik susu dengan beberapa kilogram susu padat yang diproduksi), nilai bersih kini dari arus kas masa depan yang diharapkan pada suatu tingkat resiko, atau nilai bersih yang direalisasikan untuk siklus pendek produk dimana pertumbuhan terbanyak terlah terjadi. Terakhir yang paling dapat diandalkan yaitu harga historis yang umumnya sesuai digunakan pada asset biologis yang mengalami suatu perubahan.
Suatu masalah praktis muncul ketika metode penilaian tidak langsung memasukkan kedua nilai tanaman dan tanah sebagai satu kesatuan. IAS 41 mengidentifikasikan bahwa sejumlah penilaian harus dialokasikan ke dalam asset yang berbeda yang dirundingkan. Jika suatu harga pasar dikombinasikan sepaerti yang dapat diperoleh dari tanah ditambah dengan perkembangan tanaman yang belum matang dan jumlah dari perolehan tanah yang kesemuanya itu akan membuat asersi nilaiwajar dari pertumbuhan tanaman yang belum matang (ketika tanah secara umum akan dimasukkan dalam neraca dengan harga perolehan bukan dengan harga wajar sesuai dengan IAS 41). Teknik lain akan memunculkan subdivisi dari asset ke dalam bagian-bagian berdasarkan umur, kualitas atausifat lainnya, dan penilaian dari setiap sub bagian dengan panduan dari harga pasar. Ketika metode-metode ini membutuhkan suatu usaha tambahan, IAS 41 menyatakan bahwa kegunaan dari perhitungan laporan keuangan secara material akan wajar jika hal ini dapat selesai dilaksanakan.
Peningkatan dalan nilai wajar dikarenakan pertumbuhan asset biologis hanya merupakan setengah dari perhitungan akuntansi dan tentu saja sampai pada tahap ini akan mengeluarkan biaya masukkan untuk meningkatkan pertumbuhan (seperti aplikasi pupuk untuk lading, dan lain-lain). Dibawaj ketetapan IAS 41, biaya produksi dan panen asset biologis akan dibebankan sebagai biaya sebanyak yang telah dikeluarkan. Hal ini penting karena jika biaya ditambah ke nilai asset bawaan (sama dengan bunga pinjaman dalam hubungan dengan proyek jangka panjang) dan asset disesuaikan dengan nilai wajar maka akan terdapat resiko peningkatan nilai atau biaya yang dihitung dua kali. Sesuai aturan, walaupun nilai meningkat oleh karena harga berubah atau meningkat atau keduanya akan digunakan ke dalam pendapatan, dimana biaya produksi disandingkan sebagai perkiraan lawannya tetap akan menghasilkan pengukuran yang berarti dari hasil bersih dari opersai secara periodik
Pengenalan akan Perubahan Aset Biologis
Ketika proyek agrikultur IASC diambil alih, asumsi bahwa hasil perubahan dari goncangan dalam nilai wajar secara umum berbeda dengan perubahan fisik ang dikarenakan pertumbuhan dan kejadian alam lainnya. Sesuai dengan hal itu maka DSOP 1996 mengusulkan bahwa perubahan dalam jumlah bawaan dari kelompok asset biologis akan dialokasikan. Pandangan yang nyata harus mempunyai bentuk dimana sesuai dengan penilaian kembali dari asset peralatan dan tanaman dibawah perlakuan alternative yang disetujui oleh IAS 16, dilaporkan secara langsung dalam ekuitas, sementara hal tersebut harus dimasukkan dalam hasil operasi periode berjalan. Bagaimanapun meskipun strategi ini secara konsepnya telah dikatakan, kesulitan dalam mempraktekkan alokasi dari perubahan sejumlah nilai menjadi nyata terlihat.
Ketika kerangka pembukaan E65 telah dikelurkan, posisi IASC telah dimasukkan ke dalam permasalahan perubahan kedua nilai ini dalam hasil operasi periode berjalan. Kerangka tersebut mendesak pemisahan pengungkapan dari perubahan nilai wajar dengan efek pertumbuhan, di atas laporan keuangan atau dalam catatan, hal ini tidak dibuat dalam persyaratan actual. Standar akhir, IAS 41, telah meninggalkan seluruh pemikiran ini, yang mungkin dikarenakan hal tersebut telah terbukti dikenal dan jarang ditepati.
Pengenalan actual dan persyaratan pengukuran dari IAS 41 adalah sebagai berikut :
1. Aset biologis diukur dari nilai wajarnya, dikurangi biaya penjualan, kecuali jika nilai wajar tidak dapat diukur secara reliable. Dalam kondisi lain, nilai historis digunakan.
2. Produk agricultural yang dipanen dari asset biologis perusahaan harus diukur pada nilai wajar dikurang biaya penjualan. Jumlah itu secara efektif menjadi dasar biaya, lebih lanjutnya biaya proses akan ditambahkan dengan panduan IAS 2 mengenai persediaan atau aplikasi standar lainnya.
3. Asumsi awal bahwa nilai wajar dapat diukur secara reliable untuk suatu asset biologis, asumsi tersebut dapat dihindari, hanya pada saat pengenalan awal, untuk asset biologis dimana nilai atau harga pasar tidak tersedia dan perkiraan alternative nilai wajar ditetapkan tidak reliable. Seklai nilai wajar dari sejumlah asset biologis menjadi dapat diukur secara reliable, maka diukur pada nilai wajarnya dikurangi taksiran biaya penjualan.
4. Jika suatu pasar aktif masih ada untuk suatu asset biologis atau untuk produksi agrikultur, jumlah harga dalam pasar tersebut yang tersedia untuk menentukan nilai wajar dari aet tersebut jika pasar yag aktif tidak ada. Bagaimanapun entitas pelaporan harus menggunakan nilai atau harga pasar yang ditentukan seperti ketika adanya transaksi harga pasar terkini.
5. Dibawah kondisi tertentu, nilai atau harga pasar ditentukan mungkin tidak tersedia untuk asset, seperti nilai atau harga tersebut ada pada kondisi yang biasanya. Dalam keadaan ini, entitas harus menggunakan nilai kini dari arus kas bersih yang diharapkan dari asset yang dihitung dari tingkat pasar kini sebelum pajak untuk menentukan nilai wajar.
6. Keuntungan atau kerugian yang dilaporkan dalam pengenalan awal dari asset biologis, dan juga yang muncul dari perubahan nilai wajar yang dikurangi dengan taksiran biaya penjualan, harus dimasukkan dalam keuntungan atau kerugian untuk periode dimana keuntungan atau kerugian tersebut muncul.
7. Keuntungan atau kerugian yang muncul dari pengenalan awal dari produk agrikultur harus dimasukkan kedalam keuntungan atau kerugian bersih untuk periode ketika itu muncul.
8. Tanah harus dihitung berdasarkan IAS 16 Properti, bangunan dan peralatan, atau IAS 40 Properti Investasi sebagaimana yang ada di dalam keadaan tersebut. Asset biologis secara fisik terdapat pada tabah yang dikenali dan diukur dalam nilai wajar dikurangi taksiran biaya penjualan, secara terpisah dari tanah.
9. Jika entitas memperoleh suatu pemberian pemerintah tidak seperti biasanya dihubungkan dengan asset biologis yang diukur pada nilai wajarnya dikurangi taksiran biaya penjualan, pemberian tersebut harus dibuat sebagai pendapatan ketika pertama kali diterima. Jika pemberian yang dihubungkan dengan asset biologis diukur pada nilai wajarnya dikurangi taksiran biaya penjualan seperti biasanya, termasuk pemberian yang memerlukan entitas yang tidak menggunakan kegiatan agrikultur secara terperinci, pemberian harus dibuat dalam pendapatan ketika keadaan tersebut terjadi.
10. Untuk pemberian pemerintah berkenaan dengan asset biologis yang diukur pada harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian lainnya. IAS 20 Akuntansi untuk pemberian Pemerintah dan Pengungkapan dari Pertolongan pemerintah harus digunakan.
11. Beberapa kontrak untuk penjualan asset biologis atau produk agrikultur tidak termasuk dalam ruang lingkup IAS 39 Perlengkapan Keuangan : Pengenalan dan Pengukuran, karena entitas pelaporan mengharapkan untuk mengantar komoditas daripada mengatur kas. Dalam IAS 41 kontrak tersebut diukur dalam nilai wajar sampai asset biologis terjual atau produk dipanen.

Hasil Agrikultur
Hasil agrikultur dibedakan dari asset agrikultur dan tidak diukur pada nilai wajar lain dalam panen, dimana asset biologis menjadi hasil agrikultur. Sebagai contoh, ketika tanaman dipanen mereka menjadi hasil agrikultur dan nilai awalnya dihitung berdasarkan nilai wajar sesuai dengan tanggal panen, pada alokasi panen (kecuali nilai tanaman panen angkut pada tempat yang jauh tidak menjadi pengukuran yang tepat). Jika ada jangka waktu antara penilaian terakhir dan hasil panen, nilai pada tanggal panen harus ditentukan atau ditaksis, adanya penongkatan atau penurunan sejak penilaian terakhir akan dimasukkan ke dalam penerimaan.

Financial Statement Presentation
Neraca
Sejak pertama kali KSOP dikeluarkan, pendapat resmi tentang kedalaman uraian yang diperlukan jika unit pelapor memiliki aktiva yang hidup (biological assets) telah berkembang. Pada saat itu disarankan agar aktiva yang hidup (biological assets), dipisahkan sebagai kelas aktiva tersendiri, tidak menjadi bagian dari aktiva lancer ataupun aktiva tidak lancer. Pada saat konsep awal dikelurkan, diusulkan agar aktiva yang hidup dimasukkan dalam kelompok aktiva lancer atau aktiva tidak lancer sebagaimana semestinya, baik dalam bentuk satu kesatuan ataupun berdasarkan kelompok-kelompok utama dari aktiva yang hidup tersebut. Lebih lanjut, konsep awal tersebut menyarankan agar asset hidup dikategorikan menurut kelas hewan atau tumbuhan, berdasarkan sifat aktivitas, dan kedewasaan/kematangan atau ketidakdewasaan/ketidakmatangan untuk tujuan yang ditetapkan.
Pada saat IAS 41 dirumuskan, hanya menjelaskan bahwa aktiva yang hidup (biological asset) harus disajikan pada halaman neraca (tidak termasuk dengan aktiva non-hidup yang lainnya). Penyaji disarankan untuk menjelaskan sifat dan tahapan produksi dari setiap kelompok aktiva yang hidup (biological assets) dalam bentuk tulisan di catatan untuk laporan keuangan, disarankan dalam bentuk kuantitatif. Aktiva hidup (biological assets) yag akan dikonsumsi harus dibedakan dari aktiva untuk tujuan tertentu, dengan pengelompokkan lebih lanjut kedalam subkelompok matang/dewasa dan belum matang/belum dewasa untuk setiap kategori yang besar. Tujuan dari pengungkapan adalah untuk member pandangan tentang arus kas dimas yang aka dating kepada para pengguna laporan keuangan.
Perubahan yang sudah dilakukan untuk IAS 41 oleh IASB’s Improvement Project, tentang keharusan untuk memisahkan aktiva yang hidup (biological assets) dalam neraca, dihapuskan. Pengungkapan secara tertulis atau kuantitatif tetap berlanjut sesuai dengan kebutuhan.

Laporan Laba Rugi
Perubahan dalam nilai wajar yang disajikan dalam laporan laba rugi, seharusnya terpisah antara kelompok-kelompok aktiva yang hidup (biological assets). Namun tingkat kejelasan bisa dimasukkan dalam catatan untuk laporan keuangan.
Dan juga pada saat pemisahan pengungkapan dan perubahan komponen nilai wajar (karena akibat dari pertumbuhan atau akibat dari perubahan harga) tidak lagi disarankan dalam konsep awal (Exposure Draft). Hal ini tidak lagi diajurkan, namun juga dilarang. Jelasnya, perubahan dalam nilai wajar yang merupakan konsekuensu dari perubahan harga (baik karena inflasi umum atau perubahan harga pasar yang spesifik pada komoditi, seperti gandum, akibat dari beberpa factor seperti perkiraan panen)
Secara umum dipisahkan dari pertumbuhan yang terjadi selama periode pelaporan. Pemisahan dua factor ini sangat penting dalam membuat proses pelaporan keuangan lebih berarti, dan beberapa contoh tentang bagaimana pembedaan dari nilai wajar dapat dicapai dan disajikan dalam laporan keuangan termasuk dalam konsep awal (Exposure Draft) yang mendahului IAS 41.
IAS 41 mengijinkan presentasi dari beban berdasarkan klasifikasi sifat (misalnya pembelian bahan baku, penyusutan, dsb), atau fungsi dasar (harga pokok penjualan, biaya administrative, penjualan, dsb). Konsep dari pelaporan dalam pertanian menganjurkan bahwa klasifikasi sifat dari pendapatan dan biaya diambil dari laporan laba rugi. Detail secukupnya harus dimasukkan dalam laporan laba rugi untuk mendukung analisis kinerja operasi, namun hal ini hanya anjuran, bukan keharusan.
Pengungkapan
IAS 41 mengeluarkan pengungkapan baru yang diperlukan bagi aktiva yang hidup (biological assets) yang diukur pada biaya yang sebenarnya dari aktiva tersebut dikurangi akumulasi pendapatan dan akumulasi kerugian dari kerusakan. Pengungkapan yang baru tersebut adalah sebagai berikut:
1. Rekonsiliasi yang terpisah dari perubahan nilai yang terdapat pada aktiva yang hidup (biological assets) tersebut
2. Deskripsi tentang aktiva yang hidup (biological assets) tersebut
3. Penjelasan mengapa nilai wajar tidak dapat diukur dengan terpercaya
4. Penjelasan tentang range dari estimasi dimana nilai wajar itu berada
5. Jumlah nilai dari pendapatan atau kehilangan yang diakui dari penghapusan aktiva yang hidup (biological assets)
6. Metode penyusutan yang digunakan
7. Umur ekonomis atau berapa penyesuaian yang digunakan, dan
8. Nilai kotor yang terbawa dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir dari periode pelaporan
Dalam penambahannya, pengungkapan ini diperlukan:
1. Jika nilai wajar dari aktiva yang hidup (biological assets) selalu diukur dengan biaya sebenarnya dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian akibat kerusakan menjadi perhitungan yang dapat dipercaya, unit pelaporan harus mengungkapkan deskripsi dari aktiva yang hidup (biological assets), dan penjelasan bagaimana nilai wajar dapat diukur dengan terpercaya, dan akibat dari perubahan metode akuntansi, dan
2. Informasi mengenai penurunan level dari jumlah uang pemerintah yang berhubungan dengan aktivitas agricultural pada IAS 41.

Pengungkapan bisa digabungkan baik dalam bentuk tertulis atau secara kuantitatif, informasi tentang kelompok aktiva yang hidup (biological assets), sifat dari aktivitas menyangkut kelompok tersebut, kematangan/kedewasaan dan ketidakmatangan/ketidakdewasaan untuk tujuan yang ditetapkan bagi setiap kelompok, pengaruh relative dari setiap kelompok yang berbeda dengan jumlah non-moneter (misalnya, jumlah hewan, luas tanah) untuk setiap aktiva yang hidup, dan pengukuran nonb-keuangan atau estimasi dari jumlah fisik setiap kelompok aktiva pada tanggal neraca dan hasil dari produk agrikultur selama proses pelaporan.
Pengungkapan dibuat dari dasar-dasar yang dapat diukur untuk mendapatkan nilai wajar, baik dengan menggunakan nilai independen yang sesuai, diskon rate yang digunakan untuk menghitung harga bersih dimasa yang akan dating (Net Present Value), yang sesuai dengan jumlah tahun arus kas yang diperkirakan di masa yang akan dating, penambahan tentang perubahan dalam nilai wajar dari periode sebelumnya yang diperlukan, batasan-batasan tentang hak kepemilikan dan barang jaminan dari aktiva yang hidup sebagai jaminan atas hutang; komitmen untuk pertumbuhan yang lebih lanjut atau pengambilalihan dari aktiva yang hidup; strategi yang spesifik tentang manajemen resiko yang digunakan tiap unit; pertumbuhan dari pasar dimasa yang akan dating, yang banyak digunakan untuk mengontrol resiko keuangan. Pengungkapan yang lainnya termasuk dari nilai yang terdapat pada tanah pertanian (agricultural land) dan produk dari pertanian.

Tanah Pertanian
Tanah pertanian tidak diperlukan sebagai aktiva yang hidup (biological assets); prinsip yang terdapat dalam IAS 41 untuk aktiva yang hidup tidak digunakan pada tanah. IAS 16, yang diaplikasikan untuk kategori lain dari tanah, bangunan, dan peralatan, berlaku sama untuk tanah pertanian. Metode lain dapat digunakan seperti revaluasi secara khusus untuk sistem berbasiskan tanah seperti kebun buah, tanaman-tanaman,, dan hutan, dimana nilai wajar dari aktiva yang hidup dapat ditentukan dari nilai bersih yang diharapkan (net realizable values) yang termasuk tanah yang ada, dapat menjadi hal yang logis dan dapat diterima, tapi ini bukan merupakan keharusan. Itu juga dapat meningkatkan kegunaan dari laporan keuangan bila tanah pada tiap unit di dalam altivitas agricultural lebih lanjut lagi diklasifikasi ke dalam neraca berdasarkan kegunaan yang spesifik. Pilihan lainnya, informasi ini dapat dikemukakan dalam catatan untuk laporan keuangan.

Asset yang tidak berwujud yang berhubungan dengan pertanian
Menurut IAS 38, asset yang tidak berwujud (intangible assets) dapat berupa biaya (perlakuan benchmark) atau jumlah nilai yang dinilai kembali (perlakuan alternative yang dimungkinkan), akan tetapi hanya pada tingkat dimana pasar-pasar aktif ada untuk asset yang tidak berwujud tersebut. Pada umumnya, tidak diperkirakan bahwa pasar-pasar tersebut aka nada untuk kelompok-kelompok asset yang tidak berwujud yang ditemui secara umum. POada sisi lain, aktivitas pertanian diharapkan sering meliputi hal-hal yang tidak berwujud seperti hak atas air, quota produksi, dan hak polusi, dan diantisipasi bahwa pasar-pasar aktif yang tidak berwujud ini pada kenyataannya ada.
Untuk mendukung konsistensi internal dari laporan-laporan keuangan dari entitas yang terlibat dalam operasi-operasi biologi dan pertanian, jika hal-hal yang tidak berwujud yang menyinggung aktivitas pertanian entitas memiliki pasar-pasar aktif, maka ini harus disajikan dalam neraca pada nilai yang sebenarnya. Meskipun demikian, ini bukan sebuah persyaratan actual.

Dana Bantuan Pemerintah
IAS 20 menjelaskan laporan dana bantuan pemerintah, apakah yang diterima dengan berbagai syarat atau tanpa syarat dan apakah diterima dalam bentuk tunai atau sebaliknya sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, IAS 41 secara efektiv mengubah keadaan ini dalam hal laporan yang diberikan oleh entitas mengenai dana bantuan pemerintah yang berhubungan dengan asset biologi yang diukur pada nilainya yang sebenarnya yang lebih kecil dari harga penjualan yang diperkirakan. IAS ini juga menyatakan bahwa, untuk dana Bantuan yang bersyarat, pengakuan income akan terjadi apabila ada jaminan yang tepat bahwa persyaratan tersebut telah dipenuhi. Jika dana bersyarat diterima sebelum persyaratan dipenuhi, maka dana bantuantersebut harus diakui sebagai liabilitas, bukan revenue. Untuk dana bantuan yang diterima dalam bentuk asset non moneter, nilai yang sesungguhnya akan dikaji untuk menjelaskan dana bantuan tersebut.
Peralihan ke Standard Baru
IAS adalah efektif untuk laporan-laporan keuangan selama periode awal pada atau setelah 1 Januari 203. Entitas menerapkan kriteria pengukuran tersebut dari awal tahun fiscal (laporan keuangan). Penyesuaian jumlah yang dilaporkan sebelumnya akan ditentukan dari tanggal implementasi dan laporan sesuai dengan IAS 8. ketentuan tersebut memungkinkan perlakuan benchmark dari restatement retrospektif (kecuali penyesuaian yang berhubungan dengan periode-periode sebelumnya yang tidak dapat ditentukan dengan tepat) dan alternative yang memungkinakn mengenai pencantuman efek kumulatif dari perubahan profit bersih atau kerugian akan tetapi dengan informasi periode sebelumnya denga dasar yang dinyatakan kembali secara retrospektif (seklai lagi, kecuali jumlah periode sebelumnya tidak dapat ditentukan dengan tepat). Dalam salah satu hal tersebut, dampak perubahan dalam metode laporan tidak akan disamarkan dengan perubahan nilai yang sesungguhnya yang terjadi selama periode laporan terbaru.
Sebagai hasil dari penerapan standard baru terhadap pertanian, beberapa perubahan telah dilakukan pada sejumlah standard internasional lainnya. IAS 2 telah diubah untuk mengakui secara eksplisit bahwa biaya produksi pertanian yang dipanen oleh entitas yang melaporkan adalah ilai yang sesungguhnya pada tanggal panen, di tempat panen. Perubahan lain yang tidak begitu penting dibuat pada IAS 16, 17, 20 dan 36.
PERTANIAN
A. Umum
1. Perusahaan harus datang mencantumkan jumlah asset biologisnya secara terpisah pada lembaran neracanya.
2. Perusahaan harus memperlihatkan jumlah perolehan atau kerugian yang terjadi selama periode terakhir pada pengakuan awal asset biologisnya dan produksi pertanian dan dari perubahan nilai yang sesungguhnya yang lebih kecil dari harga penjualan asset biologisnya yang diestimasi.
(IAS 41, ayat 39 dan 40)
3. Perusahaan harus memberikan uraian dari setiap kelompok asset biologi.
(IAS 41, ayat 41)
4. Jika tidak diperlihatkan dalam informasi yang dipublikasikan dengan laporan-laporan keuangan, perusahaan harus menjelaskan.
a. Sifat aktivitasnya yang melibatkan setiap kelompok asset biologis; dan
b. Hasil produksi pertanian selama periode tersebut
(IAS 41, Ayat 46)
5. Perusahaan harus memperlihatkan metode-metode yang asumsi signifikan yang digunakan dalam penentuan nilai yang sesungguhnya dari setiap kelompok produksi pertanian pada saat panen dan setiap kelompok asset biologis.
(IAS 41, Ayat 47)
6. Perusahaan harus memperlihatkan nilai produksi pertanian yang lebih kecil dari harga jual yang diperkirakan yang dipanen selama periode, yang ditentukan pada saat panen.
(IAS 41, Ayat 48)
7. Perusahaan harus memperlihatkan
a. Eksistensi dan mencantumkan jumlah asset bioogis yang namanya dibatasi dan mencantumkan jumlah asset biologis yang digunakan sebagai jaminan atas liabilitas.
b. Besarnya tanggung jawab untuk pengembangan atau perolehan asset biologis;
c. Startegi-strategi penanganan resiko financial pada aktivitas pertanian
(IAS 41, Ayat 49)
8. Perusahaan harus menyajikan rekonsiliasi perubahan dalam mencantumkan jumlah asset biologis antara awal dan akhir periode terbaru. Informasi komparatif tidak diperlukan. Rekonsiliasi harus meliputi.
a. Perolehan atau kehilangan yang timbul dari perubahan nilai yang sesungguhnya yang lebih kecil dari harga jual yang disetimasi;
b. Peningkatan karena pembelian
c. Penurunan karena penjualan
d. Penurunan karan panen
e. Peningkatan yang berasal dari kombinasi usaha
f. Selisih nilai tukar bersih yang naik pada perubahan laporan keuangan dari entitas asing; dan
g. Perubahan lainnya
(IAS 41, Ayat 50)

B. Penunjukkan lainnya untuk Asset Biologis dimana Nilai yang ssungguhnya Tidak Dapat diukur Dengan Tepat.
1. Jika sebuah perusahaan mengukur asset biologis atas biaya mereka yang lebih kecil dari depresiasi yang terakumulasi dan kerugian yang terakumulasi pada akhir periode tersbut, perusahaan harus memperlihatkan asset biologis tersebut.
a. Sebuah uraian mengenai asset biologis;
b. Sebuah penjelasan mengenai mengapa nilai yang sesungguhnya tidak dapat diukur dengan tepat
c. Jika memungkinkan, berbagai setimasi dimana nilai yang sesungguhnya adalah sangat memungkinkan untuk ditipu
d. Metode depresiasi yang digunakan
e. Masa pakai yang sangat bermanfaat atau tingkat depresiasi yang digunakan; dan
f. Jumlah kasar yang dicantumkan dan depresiasi yang terakumulasi (yang dijumlahkan denga kerugian kerusakan yang terakumulasi) pada awal dan akhir periode.
(IAS 41, Ayat 54)
2. Jika, selama periode terbaru, perusahaan mengukur asset biologisnya atas biaya mereka yang lebih kecil dari depresiasi yang terakumulasi dan berbagai kerugian kerusakan yang terakumulasikan, maka perusahaan harus memperlihatkan perolehan atau kerugian yang diakui pada pembagian asset biologis tersebut dan rekonsiliasi yang diharuskan oleh IAS 41, ayat 50, harus memperlihatkan jumlah yang berhubungan dengan asset biologis tersebut secara terpisah. Bahkan rekonsiliasi harus meliputi jumlah berikut yang dicantumkan dalam keuntungan bersih dan kerugian yang berhubungan dengan asset biologis tersebut :

a. Kehilangan karena kerusakan
b. Karugian karena kehilangan kerusakan; dan
c. Depresiasi
3. Jika nilai yang sesungguhnya dari asset biologis yang telah diukur sebelumnya atas biaya mereka. Lebih kecil dari depresiasi yang terakumulasi dan kerugian kerusakan yang terakumulasi, menjadi dapat diukur secara menyakinkan elama periode terbaru, maka sebuah perusahaan harus memperlihatkan asset biologis tersebut
a. Sebuah uraian dari asset biologisnya
b. Penjelasan mengenai mengapa nilai yang sesungguhnya menjadi dapat diukur secara menyakinkan; dan
c. Efek perubahan
(IAS 41, Ayat 66)

C. Dana Bantuan Pemerintah
Perusahaan harus memperlihatkan hal berikut yang berikut dengan aktivitas pertanian yang dijelaskan oleh Standard ini :
1. Sifat dan tingkat dana bantuan pemerintah yang diakui dalam laporan-laporan keuangan; dan
2. syarat yang tidak terpenuhi dan berbagai kemungkinan lain yang terjadi pada dana pemerintah.
(IAS 41, Ayat 57)


BY INDRA WIJAYA DKK

1 komentar:

UII Official mengatakan...

Terimakasih atas informasinya, sangat membantu.
salam kenal dari saya mahasiswa fakultas Ekonomi :)